
PENAJAM – Upaya menekan angka stunting di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) terus diperkuat melalui edukasi langsung kepada masyarakat. Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3P2KB) PPU menegaskan bahwa pencegahan harus dimulai sejak dini, bahkan sebelum kelahiran anak.
Hal itu mengemuka dalam kegiatan sosialisasi yang menghadirkan Dokter Spesialis Anak, dr. Farah Katleya, SpA sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan anak, melainkan gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis dalam jangka panjang.
“Stunting tidak hanya membuat anak lebih pendek, tetapi juga berdampak pada kecerdasan, imunitas, hingga kualitas hidup saat dewasa. Dampaknya jangka panjang dan tidak bisa dianggap sepele,” ujarnya, Senin (13/7/2026).
Ia menjelaskan, kondisi stunting diukur berdasarkan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni ketika tinggi badan anak berada di bawah minus dua standar deviasi dari kurva pertumbuhan normal.
Menurutnya, periode paling menentukan dalam pencegahan stunting adalah 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), terhitung sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Pada fase ini, perkembangan otak berlangsung sangat cepat sehingga kekurangan gizi dapat berdampak permanen.
“Jika gangguan gizi terjadi di fase ini, perkembangan otak tidak dapat pulih sepenuhnya. Karena itu, intervensi harus dilakukan sedini mungkin,” tegasnya.
Ia menambahkan, anak yang mengalami stunting berisiko memiliki volume otak lebih kecil dibandingkan anak dengan pertumbuhan normal. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan belajar, konsentrasi, hingga capaian akademik saat memasuki usia sekolah.
Meski demikian, perbaikan tinggi badan masih dimungkinkan hingga usia lima tahun melalui pemenuhan gizi yang optimal. Namun, ia mengingatkan bahwa tidak ada obat untuk stunting, sehingga langkah paling efektif adalah pencegahan.
Lebih jauh, dampak stunting juga berkaitan dengan masa depan anak. Selain berpengaruh pada kemampuan belajar, kondisi ini dapat membatasi peluang kerja karena tidak memenuhi standar fisik pada profesi tertentu, seperti TNI, Polri, maupun pilot.
Tak hanya itu, stunting juga meningkatkan risiko penyakit tidak menular di usia dewasa, seperti hipertensi, diabetes melitus, hingga obesitas. Anak dengan stunting juga cenderung memiliki daya tahan tubuh yang lebih rendah sehingga rentan terhadap berbagai penyakit.
Dalam kesempatan tersebut, dr. Farah juga menyoroti pentingnya pencegahan pernikahan usia dini. Ia menyebut, kehamilan pada usia remaja memiliki risiko tinggi melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) atau prematur, yang menjadi faktor utama pemicu stunting.
“Remaja yang menikah terlalu muda umumnya belum siap secara fisik dan mental. Ini berdampak pada kualitas kehamilan, pola asuh, serta pemenuhan gizi anak,” katanya.
DP3P2KB PPU pun mengimbau masyarakat, khususnya calon orang tua, agar mempersiapkan kehamilan secara matang. Tidak hanya dari sisi kesehatan, tetapi juga kesiapan mental dan pemahaman terkait pemenuhan gizi anak.
Melalui edukasi yang terus digencarkan, pemerintah berharap lahir generasi yang sehat, cerdas, dan produktif, sekaligus menekan angka stunting secara berkelanjutan di daerah. (adv)





