RISALAH

Aktual dan Terpercaya

ADVETORIAL DP3AP2KB

Masuk MPLS, DP3P2KB PPU Dorong Siswa Berani Lapor Kasus Bullying Sejak Dini


PENAJAM
– Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3P2KB) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) memanfaatkan momentum Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) untuk menanamkan keberanian siswa melaporkan kasus perundungan dan kekerasan sejak dini.

Langkah ini dilakukan melalui pemberian edukasi langsung kepada peserta didik baru di sejumlah sekolah, dengan materi yang mencakup pencegahan kekerasan terhadap anak, bullying, hingga risiko pernikahan usia dini.

Sejumlah sekolah yang diberikan edukasi diantaranya, SMP 5 Penajam, SMPN 10 Penajam, MTS 1 Penajam, SMPN 3 Babulu, SMAN 2 Penajam dan sejumlah sekolah lainnya yang dimulai dari 13-17 Juli 2026.

Kepala DP3P2KB PPU, Jansje Grace Makisurat mengatakan, MPLS menjadi waktu strategis untuk membangun kesadaran siswa terhadap isu perlindungan anak.

Menurutnya, selain mengenalkan lingkungan sekolah, MPLS juga harus dimanfaatkan untuk memberikan pemahaman tentang keselamatan dan hak anak.

“Di awal masuk sekolah, siswa perlu dibekali pengetahuan agar mereka paham mana perilaku yang termasuk kekerasan atau perundungan, serta berani melapor jika mengalaminya,” ujarnya, Senin (20/7/2026).

Ia menegaskan, salah satu fokus utama edukasi adalah memperkenalkan mekanisme pelaporan yang mudah diakses siswa. Hal ini dinilai penting agar kasus tidak berlarut hingga menjadi persoalan hukum.

“Anak harus tahu ke mana melapor dan merasa aman ketika menyampaikan laporan. Ini penting untuk memutus rantai kekerasan sejak awal,” tegasnya.

Untuk menjangkau lebih banyak sekolah dalam waktu pelaksanaan MPLS yang terbatas, DP3P2KB membentuk lima tim yang bekerja secara bergantian sesuai jadwal sekolah.

Pembagian tim tersebut juga dimaksudkan agar kegiatan edukasi tetap berjalan optimal tanpa mengganggu tugas rutin pegawai. Jika ada kendala di lapangan, tim lain dapat langsung menggantikan sehingga kegiatan tetap terlaksana.

Selain siswa, edukasi juga menyasar guru dan orang tua. DP3P2KB menilai, peran keduanya sangat penting dalam mendeteksi dini potensi kekerasan atau perundungan.

“Perubahan perilaku anak sering menjadi tanda awal. Misalnya tiba-tiba tidak mau sekolah, menjadi pendiam, atau mudah marah. Jika ini cepat dikenali, kasus bisa dicegah sebelum membesar,” jelasnya.

DP3P2KB juga mengingatkan sekolah agar tidak menutup-nutupi kasus demi menjaga citra. Menurutnya, keselamatan anak harus menjadi prioritas utama dibandingkan reputasi institusi.

“Jika ada kasus, segera ditangani dan dikoordinasikan dengan pihak terkait. Jangan sampai ditutup-tutupi, karena dampaknya bisa lebih besar bagi anak,” ujarnya.

Melalui keterlibatan dalam MPLS, DP3P2KB PPU berharap tercipta lingkungan sekolah yang aman dan ramah anak, sekaligus mendorong terbentuknya budaya saling melindungi di kalangan siswa sejak hari pertama masuk sekolah. (adv)

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *