RISALAH

Aktual dan Terpercaya

ADVETORIAL DP3AP2KB

DP3AP2KB PPU Gencarkan Edukasi Kreatif Cegah Kekerasan Anak, Sasar Sekolah hingga Desa

Perwakilan Penggerak Swadaya Masyarakat Ahli Muda DP3AP2KB PPU, Arpiah. (Dok.Risalah.Site)


PENAJAM
– Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) memperkuat langkah pencegahan kekerasan terhadap anak dan remaja melalui pendekatan edukasi kreatif yang menyasar sekolah hingga tingkat desa.

Upaya ini dilakukan sebagai respons terhadap meningkatnya berbagai bentuk kekerasan, mulai dari tindak pidana perdagangan orang (TPPO), perundungan (bullying), hingga kekerasan dalam pacaran (KDP) yang mulai muncul di kalangan remaja.

Penggerak Swadaya Masyarakat Ahli Muda DP3AP2KB PPU, Arpiah, mengatakan pencegahan menjadi fokus utama dengan memanfaatkan media edukasi yang lebih mudah diterima masyarakat, khususnya pelajar.

“Pencegahan kita lakukan melalui edukasi, seperti sandiwara dan pemutaran video pendek yang mengangkat isu TPPO, kekerasan terhadap anak, hingga kekerasan dalam pacaran,” ujar Arpiah, Jumat (24/7/2026).

Menurutnya, pendekatan tersebut dinilai efektif karena mampu menarik perhatian sekaligus memudahkan pemahaman peserta, terutama generasi muda yang lebih responsif terhadap media visual.

Edukasi tidak hanya dilakukan di ruang-ruang formal, tetapi juga menjangkau masyarakat melalui kegiatan sosialisasi di tingkat kecamatan serta desa dan kelurahan yang dilaksanakan secara rutin tiga kali dalam setahun.

Selain itu, DP3AP2KB PPU juga aktif masuk ke lingkungan sekolah melalui kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Materi yang diberikan mencakup bahaya rokok, penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza), hingga pencegahan perundungan.

Arpiah menjelaskan, pendekatan langsung ke sekolah memberikan dampak positif, terutama dalam membuka ruang komunikasi bagi siswa yang selama ini cenderung tertutup.

“Sekarang anak-anak mulai berani bercerita. Mereka lebih terbuka menyampaikan masalah, baik yang terjadi di sekolah maupun di lingkungan keluarga,” katanya.

Ia menambahkan, sebagian besar kasus yang muncul di tingkat sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) berkaitan dengan perundungan verbal, seperti ejekan terhadap nama orang tua, body shaming, hingga perlakuan tidak adil di rumah.

Kondisi tersebut, lanjutnya, sering kali menjadi pemicu anak melampiaskan emosi kepada teman sebaya di sekolah.

Fenomena ini sejalan dengan tren nasional, di mana kekerasan terhadap anak masih menjadi persoalan serius dan kerap terjadi di lingkungan terdekat korban, termasuk keluarga dan pergaulan sehari-hari.

Melalui penguatan edukasi yang berkelanjutan, DP3AP2KB PPU berharap kesadaran masyarakat terhadap perlindungan anak semakin meningkat, sehingga potensi kekerasan dapat ditekan sejak dini. (adv)

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *