
RISALAH, PENAJAM – Pergeseran pola usaha tambak mulai tampak di Desa Babulu Laut, Kecamatan Babulu, Penajam Paser Utara (PPU). Rumput laut kini menjadi komoditas yang kian diandalkan,
melampaui hasil bandeng dan ikan air tawar yang selama ini menjadi penopang ekonomi warga.
Wakil Ketua Komisi II DPRD PPU, Sujiati, mencatat lonjakan produksi rumput laut dalam dua tahun terakhir. Kenaikannya bukan hanya dari sisi volume, tapi juga harga.
“Dulu Rp2 ribu, sekarang sudah tembus Rp3 ribu lebih per kilogram,” kata Sujiati, Jumat (05/11/2025).
Ia menerangkan, bahwa para petani tertarik beralih karena budidaya rumput laut membutuhkan perawatan lebih sederhana dan masa panen yang lebih singkat dibandingkan ikan tambak.
Namun pergeseran itu tidak menghapus usaha tambak yang sudah berjalan puluhan tahun. “Ikan tetap dipelihara, tapi rumput laut kini yang diutamakan,” ujarnya.
Kabupaten PPU sendiri, lanjut dia, mencatat produksi rumput laut mencapai 7.000 ton per tahun. Seluruhnya masih berada pada tahap hulu sehingga nilai tambah belum maksimal.
Ia menilai Pemerintah Daerah (Pemda) perlu mengambil langkah lebih strategis, bukan sekadar memberi bibit, pupuk, atau peralatan penjemuran.
“Bantuannya lumayan, tapi yang penting sekarang adalah bagaimana mutu dan pemasaran bisa naik. Kalau ada pabrik pengolahan, pendapatan masyarakat akan jauh lebih baik,” tandasnya.
Dengan kenaikan produksi dan harga, rumput laut mulai menjadi wajah baru ekonomi pesisir Babulu dan sebuah peluang yang menunggu keberpihakan pemerintah untuk tumbuh penuh. (Adv)



