RISALAH

Aktual dan Terpercaya

ADVETORIAL DP3AP2KB

Ayah Merokok di Dalam Rumah, Keluarga Bisa Masuk Risiko Stunting


PENAJAM
– Kebiasaan merokok di dalam rumah ternyata menjadi salah satu indikator yang dapat membuat sebuah keluarga masuk kategori berisiko stunting. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pencegahan stunting tidak hanya bergantung pada makanan bergizi, tetapi juga perilaku dan lingkungan tempat anak tumbuh.

Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menyebut terdapat sekitar 30 indikator yang digunakan dalam menentukan keluarga berisiko stunting.

Kabid P4 dan Plt KBK3 DP3AP2KB PPU, Andriany Yusnita, mengatakan salah satu indikator tersebut berkaitan dengan kebiasaan anggota keluarga di dalam rumah.

“jika seorang ayah merokok di dalam rumah saja, keluarga tersebut sudah tergolong berisiko stunting,” ujar Andriani, Jumat (14/8/2026).

Andriani menegaskan, intervensi pencegahan stunting tidak hanya ditujukan kepada ibu dan anak. Peran ayah serta anggota keluarga lainnya juga menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak.

Karena itu, keluarga perlu memahami bahwa pencegahan stunting tidak cukup dilakukan dengan menambah makanan bergizi. Perubahan perilaku, pola asuh dan lingkungan tempat tinggal juga harus diperhatikan.

“Yang terpenting adalah pola asuh ibu, bagaimana peran ayah, serta dukungan orang-orang di sekitar,” kata Andriani.

Untuk mendorong perubahan perilaku keluarga, DP3AP2KB PPU telah melakukan sosialisasi dan edukasi pencegahan stunting di empat kecamatan.

Kegiatan tersebut menghadirkan tenaga kesehatan sebagai narasumber, termasuk dokter spesialis anak dan dokter umum. Edukasi diberikan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai faktor risiko dan langkah pencegahan sejak dini.

Selain sosialisasi, DP3AP2KB menjalankan program Dashat atau Dapur Sehat Atasi Stunting. Program ini memberikan pelatihan pengolahan makanan bergizi kepada masyarakat.

Dashat direncanakan dilaksanakan enam kali pertemuan dalam setahun dan menyasar 19 lokasi fokus (lokus) dengan jumlah keluarga berisiko stunting terbanyak.

Andriani mengatakan makanan bergizi tidak selalu harus berasal dari bahan makanan yang mahal. Pemahaman tersebut menjadi salah satu hal yang diberikan kepada masyarakat melalui program Dashat.

“Melalui program Dashat, kita edukasi masyarakat bahwa mengolah makanan bergizi itu sebenarnya tidak harus mahal,” ujarnya.

Kemitraan dilakukan dengan SPPGE melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dukungan tersebut diarahkan kepada ibu hamil, bayi di bawah dua tahun (baduta), serta calon pengantin (catin) yang masuk kategori berisiko.

“Kami tentu tidak bisa berjalan sendiri tanpa bekerja sama dengan OPD-OPD terkait. Melalui TPPS Kabupaten dan kemitraan yang ada, kami optimistis upaya pencegahan ini dapat berjalan lebih maksimal,” pungkasnya. (adv)

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *